Jumat, 27 November 2015

5 Tempat Religi Di Bandung yang Sayang Dilewatkan

5 Tempat wisata religi di Bandung, sayang untuk dilewatkan. Tentu saja tujuannya agar manusia tidak hanya ingat dengan gemerlapan dunia, namun juga ingat dengan kodratnya sebagai manusia. Menuruti gemerlapan dunia akan membuat manusia lupa dan lebih banyak menuntut. Padahal di Bandung memang cukup gemerlapan dengan aneka mall yang ada.
Berada di Bandung, pengunjung dan wisatawan benar-benar dibuat berada di kondisi perkotaan yang mewah. Banyak mall, distro, rumah makan mewah, pusat jajanan mewah, hotel megah dan beragam gemerlapan yang lain. Bahkan club malam pun ada di bandung, tentunya hotel-hotel yang mempunyai fasilitas ini. Banyak orang lupa bahwa Bandung juga memiliki potensi wisata religi. Orang-orang yang melakukan serangkaian ziarah ke wali songo pun senantiasa mampir ke bandung. Tujuannya juga untuk melengkapi wisata religi mereka, dan tentunya belanja.
Tersebarnya banyak masjid dan pondok pesantren di bandung juga dapat menguatkan adanya wisata religi. Berikut adalah 5 tempat wisata religi di bandung:
1. Masjid Raya Bandung
Letaknya ada di pusat kota, tepatnya di alun-alun Bandung. Dikelilingi dengan beragam mall dan pusat perbelanjaan, masjid ini merupakan salah satu masjid tua di bandung. Bangunannya menjadi satu dengan alun-alun, sehingga tidak heran kondisinya sangat ramai dan merakyat sekali.
Kalau pada umumnya masjid seperti terpisah dengan sekitarnya maka di tempat ini benar-benar menyatu. Banyak pedagang ngemper di masjid ini. Pedagang accecories sampai mie instan dengan mudah ditemui di sini. Namun jangan salah, kegiatan keagamaan di tempat ini berlangsung secara continue. Kelebihannya adalah tidak pernah tutup, sehingga siapapun dan kapanpun ingin beribadah dapat melakukannya dengan mudah.
Tempat Wisata Religi
2. PUSDAI
PUSDAI

Tempat ini juga berupa masjid yang dilengkapi dengan aula dan perpustakaan serta sentra kegiatan keagamaan lainnya. Letaknya ada di dekat gedung sate, sehingga mudah untuk dicari. Kondisinya rindang dan tidak ada pedagang yang berseliweran. Cocok untuk yang senang dengan ketenangan dan keasrian. Tempat ini dijadikan pusat penyebaran islam di Bandung.
3. Daarut Tauhid
Daarut Tauhid

Nah, kalau tempat satu ini tentu lebih banyak yang tahu. Pondok pesantren ini memang milik Kyai kondang Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal dengan Aa’ Gym. Tempatnya ada di Gegerkalong Girang. Tidak hanya pondok pesantren, di sini juga terdapat toko buku, stasiun televisi dan radio.
4. Kampung Mahmud


Kampung ini berada di pinggiran bandung, tepatnya di Kecamatan Marga Asih. Di sini terdapat makam Eyang Dalem Abdul Manaf, yang berjasa menyebarkan agama islam di wilayah Bandung.
5. SMP Kreatif iHAQi Bandung
Nah, tempat yang satu ini bisa dibilang tempat yang baru di Bandung, tepatnya tempat ini merupakan salah satu Sekolah SMP sekaligus Boarding School yang ada di kawasan Bandung Utara tepatnya dekat dengan Saung Makan Punclut Bandung. Dilihat dari namanya, SMP Kreatif iHAQi ini, merupakan salah satu sekolah yang menggagas Kreatifitas. Sekolah yang dibina langsung Oleh Ustadz Erick Yusuf ini, merupakan "salah satu tempat religi di Bandung yang sangat sayang sekali dilewatkan, karena disini selain menyajikan mutu pendidikan yang bagus, disinipun menyajikan panorama alam yang bagus dan elemen-elemen estetis yang penuh dengan kreatifitas." ujar Ustadz Erick yang dikenal dengan Dakwah Kreatifnya.
Demikian 5 tempat wisata religi di Bandung. Semoga bermanfaat dan menambah referensi kunjungan Anda di Bandung.
.

Senin, 16 November 2015

SMP Kreatif iHAQi masuk deretan Pesantren Favorite Bandung?


Pesantren Modern Di Bandung – Pesantren atau pondok pesantren, juga biasa disingkat sebagai ponpes, ialah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana semua siswanya bertempat tinggal bersama-sama dan belajar di bawah seorang bimbingan guru yang biasa dikenal dengan istilah Kiai ataupun Ustadz. Para siswa ataupun murid tersebut berada dalam sebuah kompleks yang juga menyediakan masjid sebagai tempat beribadah bersama, ruangan untuk tempat belajar, dan juga tempat lain sebagai lokasi kegiatan keagamaan yang ada.

Kompleks ini biasanya dikelilingi atau dibatasi oleh tembok agar para Ustadz dapat mengawasi setiap aktifitas siswa sesuai dengan peraturan yang telah diberlakukan. Ponpes merupakan 2 istilah yang menunjukkan 1 pengertian. Pesantren jika dilihat menurut pengertian dasarnya ialah tempat belajar para santri, sedangkan istilah dari pondok berarti rumah atau tempat tinggal. Kata pondok mungkin saja berasal dari Bahasa Arab Funduq yang bermakna asrama.

Namun baru-baru ini kita mengenal juga istilah pondok pesantren moderen. Apa itu pondok pesantren modern itu? Pesantren modern ialah pesantren yang selain mengajarkan ilmu agama islam (diutamakan) namun juga mengajarkan pendidikan umum/formal, namun persentase ajarannya jauh lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan tentang agama Islam daripada ilmu umum/formal.

Selain itu  pondok pesantren modern pada umumnya tetap menekankan nilai-nilai akan kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan juga pengendalian diri. Yang jelas pesantren moderen ialah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama islam dengan ilmu umum/formal, dan biasanya menyediakan asrama khusus bagi siswa/santrinya.

Salah satu pesantren modern yang ada didaerah Bandung ialah SMP Kreatif iHAQi Boarding School yang bertempatkan di Jl. Bukit Raya Atas No. 575 RT.02/RW.10 Punclut, Ciumbuleuit, Cidadap, Bandung. Dan SMP Kreatif iHAQi, ini termasuk salah satu daripada pesantren modern yang ada di Indonesia. Pesantren ini didirikan oleh Ustadz Erick Yusuf yang terkenal dengan Dakwah Kreatif nya.

Pendidikan di SMP Kreatif iHAQi tersendiri ialah, menyajikan mutu pendidikan yang berbasis Agamis, Universal dan Kreatif. Dan SMP Kreatif iHAQi merupakan deretan Pesantren Favorite Bandung.

Selasa, 22 September 2015

Berdoa di Hari Arafah

Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka bagi jama'ah haji yang sedang wukuf di Arafah dan bagi semua umat Islam di semua negeri

"Tiada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambaNya dari api neraka dari hari Arafah". [Riwayat Muslim]




Dan Tuhanmu berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”[QS: Al-Mukmin [4]: 60]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
خير الدعاء دعاء يوم عرفة
“Doa terbaik adalah doa pada hari Arafah.” [Riwayat At-Tirmidzi dengan sanad hasan]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
“Tiada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambaNya dari api neraka dari hari Arafah.” [Riwayat Muslim]
Banyak dari kalangan para ulama yang menyimpan hajat-hajat mereka untuk mereka panjatkan kepada Allah dalam doa-doa pada hari Arafah.
Berapa banyak dosa-dosa yang diampuni dan hajat, keinginan, harapan, obsesi, cita-cita serta taubat yang dikabulkan Allah pada hari Arafah.
Pada bulan Ramadhan Allah sembunyikan Lailatul Qadar sehingga kita tidak mengetahuinya secara pasti.
Tapi, pada bulan Dzulhijjah Allah beritahukan kepastian hari Arafah.. Apakah masih kita bermalas-malasan dan tidak bersemangat ..?!
Perbanyak berdoa dan istighfar serta bertaubat pada sore hari Arafah terutama antara Ashar sampai Maghrib.
Banyak orang sholeh yang telah merasakan dan mengalaminya sendiri, mereka berkata: “Tiada satupun doa yang aku panjatkan pada hari Arafah melainkan Allah telah mengabulkannya sebelum berputar setahun”.
Al-Hafidh Ibnu Rajab [Wafat 795 H] rahimahullah dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif hlm 482 berpendapat bahwa Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka bagi jama’ah haji yang sedang wukuf di Arafah dan bagi semua umat Islam di semua negeri.
Mari kita perbanyak berdoa untuk diri sendiri, kedua orang tua, keluarga, karib kerabat dan semua kaum muslimin, bahkan semua manusia.

Rabu, 16 September 2015

3 Olahraga Yang Dianjurkan Rasulullah SAW ada di SMP Kreatif iHAQi Bandung



Apa Anda sudah tahu olahraga apa yang disukai dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW? Ternyata Rasullullah mengajarkan kita untuk hidup sehat melalui berolahraga. Jadi olahraga itu merupakan salah satu hal yang disarankan oleh Nabi Muhammad SAW. Olah raga yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW antaralain:

Sabda Rasulullah SAW :

“Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).”(Riwayat Muslim)

1. Panahan/memanah
Apa manfaat olahraga memanah? Ternyata latihan memanah akan melatih emosi dan fisik untuk meletakkan target pada sasaran. Memanah sangat menitik beratkan body balancing. Maka jika pemanah emosinya tertekan, maka panahan amat mudah tersasar. Secara tidak langsung,  ini melatih manusia tenang, konsentrasi dan menstabilkan emosi. Individu yang tidak tenang, gopoh, pemarah, kurang sabar atau kurang sehat mentalnya tidak akan menjadi pemanah yang baik.

Perbuatan melenturkan anak panah di busurnya, kemudian melepaskannya perlu satu kekuatan fisik, ini juga satu latihan holistik kepada diri seseorang dari segi fisik dan mental.

Di Hadist lain dijelaskan:
Bersabda Rasulullah SAW, ”Kamu harus belajar memanah karena memanah itu termasuk sebaik-baik permainanmu.” (Riwayat Bazzar, dan Thabarani dengan sanad yang baik)

2. Berkuda
Selain olahraga memanah, Rasulullah SAW juga suka olahraga berkuda. Berkuda sangat baik untuk kesehatan. Seluruh anggota tubuh atau badan dari kepala sampai kaki, dari fisik hingga mental akan dapat manfaatnya. Bentuk lekuk badan belakang kuda (tempat tunggangan) baik untuk merawat segala masalah tulang belakang manusia.

Sewaktu pergerakan galloping yaitu cara kuda melompat dan berlari, menyebabkan vetebra tulang belakang manusia bergeser antara satu sama lain dalam keadaan harmoni, dan merangsang saraf-saraf tulang belakang, seolah-olah diurut, sedangkan pakar chiropraktik pun tidak mampu berbuat seperti gerakan natural tulang-tulang veterbra sewaktu orang menunggang kuda.

3. Berenang
Selain panahan dan berkuda ada lagi olahraga yang disarankan oleh rasulullah SAW. Olah raga itu adalah berenang. Sewaktu berenang, mental, fisik, semua otot dan tulang rangka digerakkan untuk membuat satu gerakan yang berkoordinasi antara dua anggota kaki dan dua anggota tangan, selain merangsang stamina (sistem kardiovaskular), berenang juga memberi peluang manusia untuk menguasai air serta menjadi berani.

Islam menganjurkan umatnya hidup sehat dan kuat sebagaimana hadis Rasulullah s.a.w, "Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih Allah kasihi daripada mukmin yang lemah". (riwayat Muslim)

Nah sekarang kita tahu, bahwa olah raga adalah suatu hal yang disukai oleh Rosulullah SAW dan kita juga tahu, olah raga apa saja yang disukai oleh Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu, sebagai muslim yang ingin dicintai Allah SWT dan Rasulullah SAW kita sebaiknya meniru dan melakukan hal yang dianjurkan/disarankan dan dilakukan oleh Nabi kita. Karena hal itu akan sangat bermanfaat bagi kita.  Dan di SMP Kreatif iHAQi Bandung, ada Esktrakulikuler yang dianjurkan oleh Rasullullah ini loh, penasaran??
Yuk cek websitenya,
www.smpkreatifihaqi.education
Thank you!;)


Senin, 07 September 2015

Kurikulum Sekolah Menghambat Kreatifitas Siswa ?

Hampir semua sekolah formal di seluruh Indonesia lebih menitikberatkan pendidikan ke dalam kurikulum akademik. Para siswa setiap hari nya diajari matematika. Bagaimana cara mencari luas persegi panjang atau pun nilai dari trigonometri yang dirasa cukup membingungkan bagi para siswa. Tak banyak siswa dari jenjang SD sampai perguruan tinggi membenci pelajaran matematika karena harus dihadapkan dengan angka- angka. Sedangkan untuk pelajaran yang dapat merangsang kreatifitas otak para anak di kesampingkan oleh pihak sekolah. Bisa kita lihat perbedaan nya, bahwa di sekolah lebih cenderung menuntut para siswa agar mendapatkan nilai sebaik- baiknya pada pelajaran matematika,IPA,Bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Sedangkan untuk pelajaran seni,seperti seni lukis,seni tari dan olahraga lebih cenderung di nomor duakan. Begitu pula dengan para orang tua, jika anak nya rendah dalam matematika para orang tua berlomba- lomba untuk memberikan les tambahan di luar sekolah atau di lembaga bimbingan belajar bonafit dengan harapan anaknya bisa lebih unggul untuk mendapatkan nilai terbaik dalam pelajaran matematika. Namun, jika sang anak rendah dalam pelajaran seni tari para orang tua tidak mau ambil pusing dengan hal itu karena mereka menilai pelajaran seni tari tidak penting dibandingkan dengan pelajaran eksak. Hal tersebut sangat tidak relevan bahkan dapat mematikan kreatifitas pada diri anak.
Bila kita lihat, banyak orang berbakat dalam dunia music atau pun dalam dunia lukis. Namun, pihak sekolah tidak mendukung bakat tersebut. Sang anak terforsir untuk mempelajari ilmu eksak karena tuntutan nilai yang di tragetkan pihak sekolah untuk dapat dipenuhi oleh para siswa. Mau tidak mau siswa tersebut lebih focus untuk mempelajari ilmu eksak dibanding meng explore kemampuannya dalam bidang seni.
Kurikulum pendidikan di Indonesia tidaklah salah,hanya saja cara menerapkan kurikulumnya yang belum tepat. Pemerintah seharusnya memberi wadah untuk para siswa agar dapat mengembangkan kreatifitasnya. Pendidikan tidak lah harus dititikberatkan pada ilmu eksak, namun berilah ruang untuk dapat meng-explore skill yang dimiliki oleh para siswa. Di sekolah,pelajaran seni dan olahraga rata- rata hanya di beri waktu 2 jam untuk setiap minggunya. Porsi pembagian waktu pembelajaran tersebut tidak lah seimbang dengan jam yang diberikan untuk pelajaran akademik. Siswa tidak hanya bisa berprestasi untuk bidang akademik saja, bahkan tidak sedikit siswa yang lebih banyak menghasilkan prestasi di bidang seni. Orang yang lemah di akademik tidak tentu orang tersebut bodoh, hanya saja mereka tidak merasa nyaman dengan apa yang di pelajari. Jika kita lihat Thomas Alfa Edison,beliau tidak menyukai sistem pembelajaran di sekolah. Dia keluar dari bangku sekolah,dia menemukan cara sendiri untuk membuat dirinya nyaman dengan apa yang di lakukan dan bagaimana dia dapat membuat dirinya sukses dengan menemukan bola lampu yang sangat bermanfaat bagi dunia.
Orang sukses tidak hanya berasal dari seseorang yang unggul dalam bidang akademik,tapi orang sukses adalah mereka yang bisa membuat dirinya nyaman dengan apa yang di kerjakan nya. Tragis memang jika kita melihat seseorang belajar sungguh- sungguh untuk mendapatkan nilai 10 dalam ujian matematika dengan hati yang sangat terpaksa. Dalam hati mereka tidak menyukai matematika,namun pihak sekolah mewajibkan agar para siswa dapat mencapai nilai lebih dalam pelajaran matematika. Inilah salah satu factor yang dapat menghambat kreatifitas para siswa. Sekolah seharusnya harus mempunyai tujuan pendidikan, dengan capaian agar anak - anak didik dapat meningkatkan dan mengoptimalkan potensi siswa sesuai dengan minat dan bakat yang di miliki. Seperti hal nya sekolah SMP Kreatif iHAQi Boarding School Bandung. Boarding School yang sekaligus di bina oleh Ustad Erick Yusuf ini, mengusung motto sekolah Agamis, Universal dan Kreatif. SMP Kreatif iHAQi ini mengkombinasikan antara kurikulum DIKNAS dengan kurikulum pesantren yang berbasis agama sehingga siswa dapat menguasai ilmu pengetahuan umum yang berbasis teknologi juga dapat memahami nilai-nilai agama utamanya mengaplikasinnya dengan kehidupan. Jadi, tidak ada salahnya menerapkan kreatifitas dalam mengaplikasikannya dengan kurikulum akademik.

PENDIDIKAN UNIVERSAL LOMPATAN YANG SIGNIFIKAN DALAM LAYANAN PENDIDIKAN



Persaingan global di segala bidang kini sedang melanda negara-negara di dunia. Bagi negara maju, mungkin adanya persaingan global hanya menuntut mereka untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan negara-negara yang lain. Tetapi bagi negara berkembang seperti Indonesia, adanya persaingan global menuntut untuk meningkatkan segala sektor negara baik politik, ekonomi, pendidikan maupun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Peningkatan semua sektor tentunya dilaksanakan melalui pembangunan bangsa. Dalam upaya pembangunan bangsa, tampaknya pengembangan sumber daya manusia adalah yang paling penting dan utama jika dibandingkan dengan pengembangan sumber daya alam, meskipun antara keduanya saling berkaitan dan tak terpisahkan. Oleh karena itu, pembangunan manusia seutuhnya perlu diwujudkan dengan sebaik-baiknya sehingga diperlukan pendekatan-pendekatan yang baik.

Pendidikan adalah sarana utama didalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanpa pendidikan akan sulit diperoleh hasil dari kualitas sumber daya manusia yang maksimal. Kebutuhan akan pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri, bahkan semua itu merupakan hak semua warga negara. Sebagaimana yang termaktub di dalam UUD’45 pasal 31 ayat (1) secara tegas menyebutkan bahwa : “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”.

Dengan demikian pendidikan yang bermutu bukanlah milik suatu kelompok atau perseorangan, akan tetapi pendidikan adalah hak semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, ataupun kasta. Menyikapi hal itu adalah sesuatu yang wajar jika pemerintah melalui keputusan menteri pendidikan nasional telah mencanangkan kewajiban belajar 9 tahun. Bahkan untuk meminimalisir jumlah angka putus sekolah dan agar seluruh warga usia sekolah berkesempatan untuk menikmati pendidikan. Pendidikan yang diusung secara Universal pun, tercapai pada tujuan pendidikan di SMP Kreatif iHAQi Boarding School Bandung. Boarding School yang dibina oleh Ustad Erick Yusuf ini, mempunyai capaian umum dengan motto Agamis, Universal dan Kreatif "Dengan ilmu dan akhlak sukses dunia akhirat". Universal yang dimaksud ialah agar anak-anak didik memiliki ilmu pengetahuan secara universal baik ilmu agama maupun pengetahuan umum. Untuk melihat profil SMP Kreatif iHAQi Boarding School Bandung bisa kunjungi websitenya :

www.smpkreatifihaqi.education
info@smpkreatifihaqi.education
Call Center: 08112245858
More Info: 08112245857/08112245859

Welcome, ahlan wa sahlan.

Minggu, 06 September 2015

SEKOLAH BERBASIS KEAGAMAAN "AGAMIS" DAN TANTANGAN BERSAMA DI MASA DEPAN

Perkembangan sekolah-sekolah berbasis keagamaan baik di tanah air maupun di negara-negara maju akhir-akhir ini adalah fenomena yang menarik. Di berbagai kota di tanah air bermunculan dengan pesatnya sekolah berbasis keagamaan, baik itu Islam ataupun Nasrani (Kristen, Katholik, maupun Advent). Boleh dikata 80% sekolah-sekolah swasta yang baru dibuka adalah sekolah berbasis keagamaan, baik itu di kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah. Sekolah-sekolah dengan label SDIT/SMPIT (Sekolah Dasar/Menengah Islam Terpadu) marak didirikan dimana-mana. Sekolah-sekolah berbasis agama Nasrani juga tidak kurang gencarnya dibuka dimana-mana. Saat ini hampir di semua kompleks perumahan atau properti besar berdiri sekolah-sekolah Nasrani. TPA-TPA (Taman Pengajian AlQur’an) dan Sekolah-sekolah Minggu semakin marak. Bahkan sekolah-sekolah negeri dan swasta umum juga mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka. Beberapa sekolah umum mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian seragam yang bernuansa agamis seperti rok panjang dan jilbab bagi para siswinya. Di negara-negara maju pun (Australia, Inggris, USA) sekolah berbasis keagamaan tumbuh subur dan semakin banyak peminatnya. Ada apa yang terjadi dengan semua ini? Darimana tumbuhnya kesadaran keagamaan macam ini? Apa peran penting sekolah-sekolah berbasis keagamaan ini di masa depan?

Sebagian orang tua yang sangat cemas dengan dampak modernisasi kemudian memilih untuk ‘mensterilkan’ anak-anak mereka dari pengaruh kehidupan masa kini, dengan memasukkan anak-anak mereka di pondok-pondok pesantren, seminari atau biara-biara tradisional dengan pola pengajaran dan lingkungan yang jauh dari pengaruh modernisasi. Mereka berpikir bahwa hal tersebut dapat menyelamatkan anak-anak mereka dari pengaruh kehidupan luar yang dianggap sudah tidak bisa ditolerir tersebut. Tak sedikit orang tua dari kalangan menengah yang melakukan hal ini dengan harapan bahwa hal ini akan dapat menyelamatkan anak-anak mereka dari etika moral zaman sekarang. 
Pesantren-pesantren tradisional maupun yang berlabel modern menjadi laku keras. Tapi usaha ini menghadapi problema serius, yaitu teralienasinya anak-anak mereka dari kehidupan modern selepas mereka dari pendidikan tradisional tersebut. Lulusan sekolah-sekolah keagamaan tradisional ini pada umumnya menjadi gagap dan tak mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan modern. Mereka tersingkir dari kehidupan dunia dan kesulitan untuk berkontribusi secara aktif dalam kehidupan modern karena mereka memang tidak dipersiapkan untuk itu. Sebagian besar dari mereka memilih untuk hidup dengan cara hidup tradisional sebagaimana mereka diajarkan dan menyingkir dari kehidupan modern. Sebagian dari mereka yang hidup di kota-kota besar kemudian menyerah dan larut pada kehidupan modern dengan segala eksesnya. Sebagian kecil kemudian menjadi ekstrim dan memilih untuk ‘memusuhi’ modernitas yang selama ini dipersepsikan sebagai ‘induk’ dari semua kejahatan. Mereka menyalahkan modernitas sebagai penyebab dari ini semua dan sebagai konsekuensinya menolak modernitas dan berpaling pada konservatisme dan radikalisme.

Jangan pandang enteng pengaruhnya. Trauma psikologis yang diakibatkan oleh pertentangan ini bisa mengakibatkan efek samping yang fatal. Seperti yang kita lihat pada begitu banyaknya peristiwa teror pemboman dimana-mana, krisis identitas dapat mengubah pemuda-pemudi yang taat pada agamanya menjadi teroris. Mereka akan melihat gempuran paham materialisme tersebut begitu mengancam sisi lain dari kehidupan mereka sebagai seorang agamawan yang taat dan merasa perlu untuk beralih secara radikal menjadi seorang ‘martyr’ atau ‘syuhada’ untuk mempertahankan paham keagamaan mereka. Realita inilah yang membuat para orang tua berpikir untuk membuat alternatif lain sebagai ganti dari sekolah-sekolah keagamaan tradisional tersebut. Mereka sadar bahwa meski pendidikan dan kultur agama sangat diperlukan bagi masa depan anak-anak tapi modernitas juga mesti diakomodir agar anak-anak mereka juga dapat menjadi pemenang dalam kehidupan dunia. Sekolah haruslah mampu memberikan bekal dasar-dasar keagamaan yang cukup untuk menghadapi materialisme dan sekaligus mampu membuat anak-anak mereka tampil cakap di dunia modern.

Kesadaran inilah yang kemudian menumbuh suburkan sekolah-sekolah berbasis keagamaan yang mengusung ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam kurikulum mereka sebagai upaya untuk memenangi kehidupan dunia. Seperti hal nya sekolah yang akan kami bahas, ialah SMP KREATIF iHAQi Boarding School Bandung. SMP KREATIF iHAQi Boarding School ini merupakan sekolah yang berbasis Agamis, Universal dan Kreatif "Dengan ilmu dan akhlak sukses dunia akhirat." Tujuan dari pendidikan nya itu sendiri ialah agar siswa/siswi memahami ajaran Islam secara kaffah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, Memiliki ilmu pengetahuan secara universal baik ilmu agama maupun pengetahuan umum dan kemudian dapat meningkatkan dan mengoptimalkan potensi siswa sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. SMP Kreatif iHAQi ini dibina oleh Ustad Erick Yusuf. Nah, untuk netizen, Ayah dan Bunda yang ingin menyekolahkan anaknya di Boarding School, daftar segera yuk di sekolah SMP Kreatif iHAQi ini, untuk melihat profil lengkapnya bisa kunjungi websitenya:

www.smpkreatifihaqi.education
info@smpkreatifihaqi.education
Call Center: 08112245858
More Info: 08112245857/08112245859

Welcome, ahlan wa sahlan.



Minggu, 23 Agustus 2015

SMP KREATIF iHAQi (BOARDING SCHOOL) USTADZ ERICK YUSUF

SEKOLAH BERBASIS AGAMIS, UNIVERSAL DAN KREATIF


       Assalamualaikum sahabat Info Islami, kali ini kami akan membahas mengenai Boarding School. Boarding school terdiri dari dua kata yaitu boarding dan school. Boarding berarti asrama. Dan school berarti sekolah. Boarding School adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya.
Boarding school atau sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing. Boarding school adalah lembaga pendidikan di mana para siswa tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga tersebut. Boarding School mengkombinasikan tempat di rumah, dipindah ke institusi sekolah, di mana di sekolah tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian.

Maksud disini mendefinisikan bahwa boarding school adalah sekolah yang memiliki asrama, di mana para siswa hidup; belajar secara total di lingkungan sekolah. Karena itu segala jenis kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah .Mengapa boarding school ?? Jawabnya adalah karena kelebihan model sekolah ini. Adapun kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil, semua siswa dapat berpartisipasi dalam program belajar, mutu akademik dan skill menjadi prioritas boarding school, dapat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar, dan dapat berkomunikasi langsung dengan pembimbing.

 Boarding School bukan sesuatu yang baru dalam konteks pendidikan di Indonesia. Karena sudah sejak lama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menghadirkan konsep pendidikan boarding school yang mengadopsi “Pondok Pesantren”.
Boarding school  yang pola pendidikannya lebih komprehensif-holistik lebih memungkinkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal untuk melahirkan orang-orang yang akan dapat membawa gerbong dan motor pergerakan kehidupan social, politik, ekonomi dan agama.
Kehadiran boarding school (pesantren) menjadi suatu keniscayaan untuk dilibatkan. Sebab sekolah ini didirikan dengan tujuan mengadakan transformasi sosial bagi masyarakat sekitar.
Dari banyak sekolah-sekolah boarding di Indonesia, terdapat 3 corak yaitu bercorak agama, nasionalis-religius, dan ada yang nasionalis. Untuk yang bercorak agama terbagi dalam banyak corak ada yang fundamentalis, moderat sampai yang agak liberal.

Kehadiran boarding school telah memberikan alternative pendidikan bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Seiring dengan pesatnya modernitas, dimana orang tua tidak hanya Suami yang bekerja tapi juga istri bekerja sehingga anak tidak lagi terkontrol dengan baik maka boarding school adalah tempat terbaik untuk menitipkan anak-anak mereka, baik makannya, kesehatannya, keamanannya, sosialnya, dan yang paling penting adalah pendidikanya yang sempurna. 

Nah, kami mempunyai referensi untuk Ayah dan Bunda memasukkan buah hati Anda ke SMP Kreatif iHAQi, Sekolah Berasrama yang mengusung tema Agamis, Universal, dan Kreatif dengan ilmu dan akhlak sukses dunia akhirat. Sekolah ini dibina Oleh Ustadz Erick Yusuf sekaligus beliau adalah sebagai Pemrakarsa Yayasan iHAQi Bandung. Di sebuah Pondok Pesantren, sudah biasa terdengar dengan ajaran agama, ilmu agama merupakan dasar atau wadah bagi semua ilmu terapan. Ilmu-ilmu terapan akan semakin tajam dan bermanfaat dengan didasari pemahaman ilmu agama. Disini SMP Kreatif iHAQi Boarding School akan memberikan dasar agama sebagai wadah yang akan membentuk karakter kepribadian yang shaleh dan shalehah, dengan tetap mengembangkan ilmu pengetahuan, science dan ilmu teknologi. Dengan didasari hal tersebut, maka hal ini akan menjadi jawaban sebagai tantangan masa depan agar menuju menjadi manusia-manusia yang bermanfaat. Sebagaimana dalam Hadist, "Khairu naasi anfa'uhum lin naas" yang artinya "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Itulah yang menjadi pedoman dalam setiap pengembangan karakter dan kepribadian di sekolah iHAQi Boarding School.

Kurikulum dan Sistem Pembelajaran dari SMP Kreatif iHAQi ini, mengkombinasikan antara kurikulum DIKNAS dengan kurikulum pesantren yang berbasis agama sehingga siswa dapat menguasai ilmu pengetahuan umum yang berbasis teknologi, juga dapat memahami nilai-nilai agama utamanya mengaplikasikannya dalam kehidupan. Dengan demikian setelah lulus dari SMP Kreatif iHAQi siswa diharapkan dapat bersaing pada tataran nasional maupun global.
Kurikulum SMP Kreatif iHAQi disampaikan oleh para pengajar yang profesional dan memiliki kompetensi tinggi dengan kualifikasi pendidikan Strata 2 (S2). Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam kondisi yang menyenangkan sehingga siswa dapat menyerap materi dengan mudah juga disampaikan dengan media berbasis teknologi. Hal ini diadopsi dari sebuah metode pembelajaran terbaik di dunia yang lebih teruji dan telah melahirkan para kaum profesional yang sudah diakui di dunia yaitu Finlandia.

Nah, Jika Ayah dan Bunda tertarik untuk mendaftarakan buah hati nya di Boarding School. Disinilah tempatnya^.^ Hubungi Informasi:
Bandung : 08112245857
Jakarta    : 08112245859
Jl. Bukit Raya Atas No. 575 RT 02/ RW 10
Punclut, Ciumbuleuit, Cidadap, Bandung 40142
Call Center : 08112245858
info@smpkreatifihaqi.education
www.smpkreatifihaqi.education

APA ITU BOARDING SCHOOL?


BAB I
 PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usah orang dewasa untuk membimbing anak didik agar tumbuh dan berkembang  menjadi manusia dewasa. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan potensi-potensi manusia yaitu potensi jasmani dan rohani. Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak didik secara maksimal. Di zaman era globalisasi ini banyak pengaruh negatif yang kita temukan di lapangan yaitu adanya kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan tawuran antar pelajar. Oleh krena itu dunia pendidikan melakukan inovasi dan kreasi dengan menawarkan konsep boarding school atau sekolah asrama.
Di sekolah boarding school Anak didik bisa belajar lebih maksimal, fokus, bisa berinteraksi langsung dengan guru, dan selalu terkontrol akativitas di asrama. Manfaat lain adalah anak didik bisa belajar mandiri. Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan interaksi dengan sesama siswa, bahkan berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan demikian, pendidikan kognisi, afektif, dan psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan optimal.
Boarding School yang baik dijaga dengan ketat agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan atau dengan ciri khas suatu sekolah berasrama. Dengan demikian peserta didik terlindungi dari hal-hal yang negatip seperti merokok, narkoba, tayangan film/sinetron yang tidak produktif dan sebagainya.
Oleh karena itu pemakalah akan menjelaskan lebih lanjut tentang boarding school pada makalah berikut ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Boarding school terdiri dari dua kata yaitu boarding dan school. Boarding berarti asrama. Dan school berarti sekolah. Boarding School adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya.
Boarding school atau sekolah berasrama. Para murid mengikuti pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Selama 24 jam anak didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru pembimbing.
Boarding school adalah lembaga pendidikan di mana para siswa tidak hanya belajar tetapi juga bertempat tinggal dan hidup menyatu dengan di lembaga tersebut. Boarding School mengkombinasikan tempat di rumah, dipindah ke institusi sekolah, di mana di sekolahb tersebut disediakan berbagai fasilitas tempat tinggal; ruang tidur, ruang tamu, ruang belajar dan tempat olah raga, perpustakaan, kesenian.
Maksudin mendefinisikan bahwa boarding school adalah sekolah yang memiliki asrama, di mana para siswa hidup; belajar secara total di lingkungan sekolah. Karena itu segala jenis kebutuhan hidup dan kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah (Maksudin, 2006, hlm.8). Mengapa boarding school ? Jawabnya adalah karena kelebihan model sekolah ini. Adapun kelebihannya yaitu: kelas lebih kecil, semua siswa dapat berpartisipasi dalam program belajar, mutu akademik dan skill menjadi prioritas boarding school, dapat memanfaatkan secara optimal sumber-sumber belajar, dan dapat berkomunikasi langsung dengan pembimbing.[1]
 Boarding School bukan sesuatu yang baru dalam konteks pendidikan di Indonesia. Karena sudah sejak lama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia menghadirkan konsep pendidikan boarding school yang mengadopsi “Pondok Pesantren”.
Ketika dipertengahan tahun 1990 an masyarakat Indonesia mulai gelisah dengan kondisi kualitas generasi bangsa yang cenderung terdikotomi secara ekstrim-yang pesantren terlalu ke-agama dan yang sekolah umum terlalu ke-duniawian-ada upaya untuk mengawinkan pendidikan umum dan pesantren dengan melahirkan term baru yang disebut boarding school atau internat yang bertujuan untuk melaksanakan pendidikan yang lebih komprehensif-holistik, ilmu dunia (umum) dapat capai dan ilmu agama juga dikuasai. Maka sejak itu mulai munculah banyak sekolah-sekolah boarding yang didirikan.
Hal ini juga dilator belakangi oleh pendidikan bangsa Indonesia yang selama ini dipandang belum memenuhi harapan yang ideal. Boarding school  yang pola pendidikannya lebih komprehensif-holistik lebih memungkinkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang ideal untuk melahirkan orang-orang yang akan dapat membawa gerbong dan motor pergerakan kehidupan social, politik, ekonomi dan agama.[2]
Kehadiran boarding school (pesantren) menjadi suatu keniscayaan untuk dilibatkan. Sebab sekolah ini didirikan dengan tujuan mengadakan transformasi sosial bagi masyarakat sekitar.[3]
Dari banyak sekolah-sekolah boarding di Indonesia, terdapat 3 corak yaitu bercorak agama, nasionalis-religius, dan ada yang nasionalis. Untuk yang bercorak agama terbagi dalam banyak corak ada yang fundamentalis, moderat sampai yang agak liberal.
Kehadiran boarding school telah memberikan alternative pendidikan bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Seiring dengan pesatnya modernitas, dimana orang tua tidak hanya Suami yang bekerja tapi juga istri bekerja sehingga anak tidak lagi terkontrol dengan baik maka boarding school adalah tempat terbaik untuk menitipkan anak-anak mereka, baik makannya, kesehatannya, keamanannya, sosialnya, dan yang paling penting adalah pendidikanya yang sempurna. Namun juga tidak dipungkiri kalau ada factor-faktor yang negative kenapa orang tua memilih boarding school yaitu keluarga yang tidak harmonis, dan yang ekstrim karena sudah tidak mau/mampu mendidik anaknya dirumah.[4]
B.     Faktor-faktor Pendukunya Berkembangnya Boarding School
Keberadaan Boarding School adalah suatu konsekuennsi logis dari perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang religiusitas masyarakat. Dijelaskan sebagai berikut:
1.      Lingkungan sosial yang kini telah banyak berubah, terutama di kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser kearah masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal ini berimbas pada pola perilaku masyarakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai-nilai yang berbeda pula. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa lingkungan sosial seperti itu sudah tidak lagi kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual dan perkembangan anak.
2.      Keadaan ekonomi masyarakat yang semakin membaik, mendorong pemenuhan kebutuhan di atas kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang baru muncul akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga mendapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi pada tingginya penghasilan mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak melebihi pendidikan yang telah diterima oleh orang tuanya.
3.      Cara pandang religiusitas masyarakat telah, sedang, dan akan terus berubah. Kecenderungan terbaru masyarakat perkotaan sedang bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah semakin diminati dan semaraknya kajian dan berbagai kegiatan keagamaan. Modernitas membawa implikasi negatif dengan adanya ketidak seimbangan antara kebutuhan ruhani dan jasmani. Untuk itu masyarakat tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. Intinya, ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agamis atau memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orang tua mencarikan sistem pendidikan alternatif.[5]
C.     Karakteristik Boarding School
Secara embrional, boarding school telah mengembangkan aspek-aspek tertentu dari nilai-nilai yang ada pada masyarakat. Sejak awal berdirinya lembaga ini sangat menekankan kepada moralitas dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemandirian, kesederhanaan, dan sejenisnya. [6]
Karakteristik system pendidikan Boarding School, diantaranya adalah:
1.      Dari segi sosial, system boarding school mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama dikonstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menuntut ilmu sebagai sarana mengejar cita-cita.
2.      Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang paripurna sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan dan fasilitas.
3.      Dari segi semangat religiusitas, boarding school menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan ruhani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara iman dan amal saleh.[7]
D.    Klasifikasi Boarding School
Jenis-jenis Boarding School.
1.      Menurut system bermukim siswa[8]
No.
Tipe Boarding School
Keterangan
1
All Boarding School
Seluruh siswa tinggal di asrama/sekolah
2
Boarding day school
Sebagian siswanya tinggal di asrama dan sebagian lagi tinggal di sekitar asrama
3
Day boarding
Mayoritas tidak tinggal di asrama meskipun sebagian ada yang tinggal di asrama
2.      Menurut Jenis Siswa[9]
No.
Tipe Boarding School
keterangan
1
Junior boarding school
Sekolah yang menerima murid dari tingkat SD sampai dengan SMP, namun umumnya tingkat SMP saja.
2
Co-educational school
Sekolah yang menerima siswa laki-laki dan perempuan
3
Boys school
Sekolah yang menerima siswa laki-laki saja
4
Girls school
Sekolah yang menerima siswa perempuan saja
5
Pre- professional arts school
Sekolah khusus untuk seniman
6
Special-Need Boarding School
Sekolah untuk anak-anak yang bermasalah dengan sekolah biasa
3.      Menurut system sekolah
No.
Tipe Boarding School
Keterangan
1
Military school
Sekolah yang mengikuti aturan militer dan biasanya menggunakan seragam khusus
2
5 day boarding school
Sekolah dimana siswa dapat memilih untuk tinggal diasrama atau pulang di akhir pekan
E.     Perbedaan Sekolah Formal dan Boarding School
1.      Perbedaan Sekolah Formal dan Boarding School
No.
Kriteria
Sekolah Formal
Boarding School
1
Fasilitas
Fasilitas standar sekolah umum
Dilengkapi fasilitas hunian dan berbagai fasilitas pendukung (sarana ibadah, olahraga, dll)
2
Kegiatan harian
Jadwal kegiatan terbatas pada KBM
Jadwal kegiatan harian teratur
3
Sistwm pendidikan
Pengajaran formal di kelas dan kegiatan ekstrakurikuler
Pengajaran formal, ekstrakurikuler, pendidikan khusus /informal (keagamaan dll)
4
Aktivitas
Siswa dating kesekolah untuk belajar kemudian pulang
Siswa belajar dan tinggal di sekolah, kehidupan siswa ada di sekolah
5
kurikulum
Kurikulum standar Nasional
Kurikulum standar Nasional, kurikulum Departemen Agama, dan kurikulum tambahan khas Boarding School
6
Karakter arsitektur
Terdiri dari satu atau beberapa massa yang kompak
Banyak massa yang menyebar dengan massa hunian umumnya mengelilingi massa hunian
7
Pemanfaatan waktu
Waktu sangat terbatas pada KBM
Tidak terbatas di jam belajar, juga di jam pelajaran
8
Proses pendidikan
Perhatian guru tidak optimum, karena keterbatasan waktu dan perbandingan jumlah siswa dan guru yang relative besar
Perhatian lebih optimum, karena waktu interaksi yang dimiliki lebih banyak, perbandingan siswa dan guru lebih kecil
9
Jumlah siswa
40-45 orang
Minimla 18 orang maksimal 30 orang
10
konsep
Sekuler (memisahkan agama dan ilmu pengetahuan, dan penerapan kehidupan sehari-hari)
Islam integrated (hal ini berdasar konsep ajaran islam yang meliputi bidang sosial, budaya, politik, science)
11
Nuansa religius
Hampir tidak tampak
Sangat kental, terlihat dari segi berpakaian dan kebiasaan
2.      Perbedaan Secara Terjemahan Arsitektural
No.
Kriteria
Sekolah Formal
Boarding School
1
kurikulum
Tidak membutuhkan ruang belajar khusus
Membutuhkan belajar khusus untuk tahfidz dan tarih islam
2
Jumlah anak didik
Ruang kelas berukuran minimum 90 m² (kapasitas 45 orang)
Ruang kelas 72 m² (kapasitas 30 orang) dan ruang kelas 30 m² (kapasitas 18 orang)
3
Konsep
Bebas
Lingkungan sekolah islami (membangkitkan penghayatan terhadap nilai-nilai islam) bangunan sebagai penghayatan Islam
4
Nuansa religius
Arsitektur tidak harus mendukung terjadinya pengalaman spiritual
Arsitektur sangat mendukung, menggunakan keteraturan pola dan beradaptasi untuk ketenangan, menghubungkan ruang dalam dan ruang luar
5
Pembagian kelas
Jumlah ruang kelas berdasarkan ruang murid secara keseluruhan
Jumlah ruang kelas berdasarkan seluruh jumlah siswa putra dan putri
6
Fungsi masjid
Peletakan masjid tidak menjadi focus perancangan
Masjid aktif, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan komunitas sekolah.
F.      Keunggulan Boarding School
Banyak keunggulan yang terdapat dalam sistem asrama atau boarding school ini. Dengan sistem pesantren atau mondok, seorang siswa atau santri tidak hanya belajar secara kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotor.
Salah satu cara terbaik mengajarkan dunia afektif adalah pemberian teladan dan contoh dari para pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh di sekitar anak. Dengan mengasramakan anak didik sepanjang 24 jam, anak didik tidak hanya mendapatkan pelajaran secara kognitif, melainkan dapat menyaksikan langsung bagaimana perilaku ustadz, guru, dan orang-orang yang mengajarkan mereka. Para siswa bisa menyaksikan langsung, bahkan mengikuti imam, bagaimana cara salat yang khusuk, misalnya. Ini sangat berbeda dengan pelajaran salat, misalnya, yang tanpa disertai contoh dan pengalaman makmum kepada imam yang salatnya khusuk. Jangan-jangan pelajaran di ke kelas bisa berbeda dengan pelaksanaan di rumah saat murid/santri melaksanakannya sendiri.
Sistem boarding school mampu mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, maka sistem mesantren ini memiliki prasyarat agar para guru dan pengelola sekolah siap mewakafkan dirinya selama 24 jam. Selama siang dan malam ini, mereka melakukan proses pendidikan, baik ilmu pengetahuan, maupun memberikan contoh bagaimana mengamalkan berbagai ilmu yang diajarkan tersebut.
Kelebihan-kelebihan lain dari sistem ini adalah sistem boarding lebih menekankan pendidikan kemandirian. Berusaha menghindari dikotomi keilmuan (ilmu agama dan ilmu umum). Dengan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan membentuk kepribadian yang utuh setiap siswanya. Pelayanan pendidikan dan bimbingan dengan sistem boarding school yang diupayakan selama 24 jam, akan diperoleh penjadwalan pembelajaran yang lebih leluasa dan menyeluruh, segala aktifitas siswa akan senantiasa terbimbing, kedekatan antara guru dengan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan senantiasa diterapkan karena murid mengetahui setiap aktifitas guru selama 24 jam. Pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, ucapan, perilaku dan sikap siswa akan senantiasa terpantau, tradisi positif para siswa dapat terseleksi secara wajar, terciptanya nilai-nilai kebersamaan dalam komunitas siswa, komitmen komunitas siswa terhadap tradisi yang positif dapat tumbuh secara leluasa, para siswa dan guru-gurunya dapat saling berwasiat mengenai kesabaran, kebenaran, kasih sayang, dan penanaman nilai-nilai kejujuran, toleransi, tanggungjawab, kepatuhan dan kemandirian dapat terus-menerus diamati dan dipantau oleh para guru / pembimbing.[10]
Sekolah berasrama biasanya mempunyai fasilitas yang lengkap, sebagai penunjang pencapaian target program pendidikan sekolah berasrama. Dengan fsilitas lengkap sekolah dapat mengekplaitasi potensi untuk membangun lembaga pendidikan yang kompeten dalam menghasilkan output yang berkualitas.
Sekolah berasrama dapat merancang program pendidikan yang komprehensif-holistik dari program pendidikan kaagamaan, academic development, life skill sampai membangun wawasan global. Bahkan pembelajaran tidak hanya sampai pada tataran teoritis , tapi juga implementasi baik dalam konteks belajar ilmu ataupun belajar hidup.
Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam kompleks sekolah terlibat dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru atau bisa dibalik gurunya bukan hanya guru mata pelajaran,tapi semua orang dewasa yang ada di Boarding School adalah guru. Siwa tidak bisa lagi diajarkan bahasa-bahasa langit, tapi siswa melihat langsung praktek kehidupan dalam berbagai aspek. Begitu juga dalam membangun religious society, maka semua elemen yang terlibat mengimplmentasikan agama secara baik.
Sekolah berasrama mampu menampung siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda. Siswa berasal dari berbagai daerah yang mempunyai latar belakang sosial, budaya, tingkat kecerdasan, kemempuan akademik yang sangat beraga, keadaan ini sangat kondusif untuk membangun wawasan nasional, dan siswa terbiasa berinteraksi dengan siswa yang berbeda.
Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Makanya, banyak sekolah berasrama yang mengadop pola penidikan militer untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Tata tertib dibuat sangat rigid lengkap dengan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya.
G.    Problematika Boarding School
Sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama dalam pengamatan saya masih banyak mempunyai persoalan yang belum dapat diatasi sehingga banyak sekolah berasrama layu sebelum berkembang dan itu terjadi pada sekolah-sekolah boarding perintis. Faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
1.      Ideologi Boarding school yang tidak jelas
Term ideology yang digunakan untuk menjelaskan tipologi atau corak sekolah berasrama, apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-religius. Yang mengambil corak religius sangat beragam dari yang fundamentalis, moderat sampai liberal. Masalahnya dalam implementasi ideologinya tidak dilakukan secara kaffah. Terlalu banyak improvisasi yang bias dan keluar dari pakem atau frame ideology tersebut. Hal itu juga serupa dengan yang nasionalis, tidak mengadopsi pola-pola pendidikan kedisiplinan militer secara kaffah, akibatnya terdapat kekerasan dalam sekolah berasrama.
2.      Dikotomi guru asrama vs guru sekolah
Sampai saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang cocok untuk sekolah berasrama. Pabrikan guru tidak “memproduksi” guru-guru sekolah berasrama. Akibatnya, masing-masing sekolah mendidik guru asramanya sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Guru sekolah (mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mata pelajarannya, sementara guru pengasuhan adalah tersendiri hanya bicara soal pengasuhan. Padahal idealnya, dua kompetensi tersebut harus melekat dalam Boarding school.
3.      Kurikulum Pengasuhan yang tidak Baku
Salah satu yang membedakan sekolah-sekolah berasrama adalah kurikulum pengasuhannya. Kalau bicara kurikulum academicnya dapat dipastikan hampir sedikit perbedaannya. Semuanya mengacu kepada kurikulum KTSP-nya produk DEPDIKNAS dengan ditambah pengayaan atau suplemen kurikulum international dan muatan local. Tapi kalau bicara tentang pola pengasuhan sangat beragam, dari yang sangat militer (disiplin) sampai ada yang terlalu lunak. Kedua-duanya mempunyai efek negative, pola militer melahirkan siswa yang berwatak keras dan terlalu lunak menimbulkan watak licik yang bisa mengantar sang siswa mempermainkan
4.      Sekolah dan Asrama Terletak dalam Satu Lokasi
Umumnya sekolah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan dalam jarak yang sangat dekat. Kondisi ini yang telah banyak berkontribusi dalam menciptakan kejenuhan anak berada di sekolah Asrama. Karena menurut Komaruddin Hidayat (Direktur Executive Madania), siswa harus mengalami semacam proses berangkat ke sekolah. Dengan begitu, mereka mengenyam suasana meninggalkan tempat menginap, berinteraksi dengan sesama siswa di jalan, serta melihat aktivitas masyarakat sepanjang jalan, sehingga siswa dituntut memiliki mobilitas tinggi, kesehatan dan kebugaran yang baik, dan dapat membaca setiap fenomena yang ada disekitarnya.[11]
H.    Solusi Terhadap Problematka Boarding School
Kebanyakan dari siswa yang sekolah pada Boarding School adalah kemauan dari orang tua siswa bukan dari siswa itu sendiri. Akibatnya, dubutuhkan waktu yang lama (rata-rata 4 bulan) untuk siswa menyesuaikan diri dan masuk kedalam konsep pendidikan boarding yang integrative. Hal ini disebabkan karena citra seklolah berasrama yang menakutkan, kaku, membosankan. Oleh sebab itu perlu di-design sekolah berasrama yang menarik nyaman dan menyenangkan.
Sekolah berasrama tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas akademik dan fasilitas menginap memadai bagi siswa, tetapi juga menyediakan guru yang menggantikan peran orangtua dalam pembentukan watak dan karakter. Kedekatan antara siswa dan guru dalam sekolah berasrama yang tercipta oleh intensitas pertemuan yang memadai akan mempermudah proses transfer ilmu dari pendidik ke peserta didik. Kedekatan akan mengubah posisi guru di mata para murid. Dari sosok ditakuti atau disegani ke sosok yang ingin diteladani. Dr Georgi Lozanov (1897) menyatakan bahwa suatu tindak tanduk yang diperlihatkan oleh gurunya kepada para siswa dalam proses belajarnya, merupakan tindakan yang paling berpengaruh, sangat ampuh serta efektif dalam membentuk kepribadian mereka.
Dalam konteks manajemen sekolah, boarding school model pengelolaannya harus lebih lentur, efektive, dan menerapkan manajemen berbasis sekolah secara konsisten.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sekolah Berasrama adalah alternative terbaik buat para orang tua menyekolahkan anak mereka dalam kondisi apapun. Selama 24 jam anak hidup dalam pemantauan dan control yang total dari pengelola, guru, dan pengasuh di seklolah-sekolah berasrama. Anak betul-betul dipersiapkan untuk masuk kedalam dunia nyata dengan modal yang cukup, tidak hanya kompetensi akademis, tapi skill-skill lainnya dipersiapkan sehingga mereka mempunyai senjata yang ampuh untuk memasuki dan manaklukan dunia ini.
Di sekolah berasrama anak dituntut untuk dapat menjadi manusia yang berkontribusi besar bagi kemanusiaan. Mereka tidak hanya hidup untuk dirinya dan keluarganya tapi juga harus berbuat untuk bangsa dan Negara. Oleh sebab itu dukungan fasilitas terbaik, tenaga pengajar berkualitas, dan lingkungan yang kondusif harus didorong untuk mencapai cita-cita anak bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abd, Pembaruan Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006
Mas’ud. Abdurrahman, Dari Haramain ke Nusantara, Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, Jakarta: Pranada Media Group, 2006
 Muslimin, Sutrisno, “Boarding School: Solusi Pendidikan Untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan”, dalam http://sutris02.wordpress.com/
Tahya, A. Halim Fathani, “Boarding School dan Pesantren Masa Depan”, dalam http://masthoni.wordpress.com/2009/06/14/boarding-school-dan-pesantren-masa-depan/#more-162
Nurkhamid, Mahmud, “Jenis-jenis Boarding School”, dalam www.elib.unicom.ac.id.
Maksudin, ( 2006) Pendidikan Nilai Sistem Boarding School di SMP IT Abu Bakar(Hasil Penelitian Untuk Disertasi), Yogyakarta  : Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga


[1] Maksudin ( 2006) Pendidikan Nilai Sistem Boarding School di SMP IT Abu Bakar(Hasil Penelitian Untuk Disertasi), Yogyakarta  : Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga
[2]  Sutrisno Muslimin, “Boarding School: Solusi Pendidikan Untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan”, dalam http://sutris02.wordpress.com/ , (23 Maret 2009).
[3] Abd A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), 47.
[4]  Ibid.
[5]  A. Halim Fathani Tahya, “Boarding School dan Pesantren Masa Depan”, dalam http://masthoni.wordpress.com/2009/06/14/boarding-school-dan-pesantren-masa-depan/#more-162 (14 Juni 2009).
[6]  Abd A’la, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006), 49.
[7]  Ibid.
[8]  Muhammad Nurkhamid, “Jenis-jenis Boarding School”, dalam www.elib.unicom.ac.id.
[9]  Ibid.
[10]  A. Halim Fathani Tahya, “Boarding School dan Pesantren Masa Depan”, dalam http://masthoni.wordpress.com/2009/06/14/boarding-school-dan-pesantren-masa-depan/#more-162 (14 Juni 2009).
[11]  Sutrisno Muslimin, “Boarding School: Solusi Pendidikan Untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan”, dalam http://sutris02.wordpress.com/