Senin, 07 September 2015

Kurikulum Sekolah Menghambat Kreatifitas Siswa ?

Hampir semua sekolah formal di seluruh Indonesia lebih menitikberatkan pendidikan ke dalam kurikulum akademik. Para siswa setiap hari nya diajari matematika. Bagaimana cara mencari luas persegi panjang atau pun nilai dari trigonometri yang dirasa cukup membingungkan bagi para siswa. Tak banyak siswa dari jenjang SD sampai perguruan tinggi membenci pelajaran matematika karena harus dihadapkan dengan angka- angka. Sedangkan untuk pelajaran yang dapat merangsang kreatifitas otak para anak di kesampingkan oleh pihak sekolah. Bisa kita lihat perbedaan nya, bahwa di sekolah lebih cenderung menuntut para siswa agar mendapatkan nilai sebaik- baiknya pada pelajaran matematika,IPA,Bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Sedangkan untuk pelajaran seni,seperti seni lukis,seni tari dan olahraga lebih cenderung di nomor duakan. Begitu pula dengan para orang tua, jika anak nya rendah dalam matematika para orang tua berlomba- lomba untuk memberikan les tambahan di luar sekolah atau di lembaga bimbingan belajar bonafit dengan harapan anaknya bisa lebih unggul untuk mendapatkan nilai terbaik dalam pelajaran matematika. Namun, jika sang anak rendah dalam pelajaran seni tari para orang tua tidak mau ambil pusing dengan hal itu karena mereka menilai pelajaran seni tari tidak penting dibandingkan dengan pelajaran eksak. Hal tersebut sangat tidak relevan bahkan dapat mematikan kreatifitas pada diri anak.
Bila kita lihat, banyak orang berbakat dalam dunia music atau pun dalam dunia lukis. Namun, pihak sekolah tidak mendukung bakat tersebut. Sang anak terforsir untuk mempelajari ilmu eksak karena tuntutan nilai yang di tragetkan pihak sekolah untuk dapat dipenuhi oleh para siswa. Mau tidak mau siswa tersebut lebih focus untuk mempelajari ilmu eksak dibanding meng explore kemampuannya dalam bidang seni.
Kurikulum pendidikan di Indonesia tidaklah salah,hanya saja cara menerapkan kurikulumnya yang belum tepat. Pemerintah seharusnya memberi wadah untuk para siswa agar dapat mengembangkan kreatifitasnya. Pendidikan tidak lah harus dititikberatkan pada ilmu eksak, namun berilah ruang untuk dapat meng-explore skill yang dimiliki oleh para siswa. Di sekolah,pelajaran seni dan olahraga rata- rata hanya di beri waktu 2 jam untuk setiap minggunya. Porsi pembagian waktu pembelajaran tersebut tidak lah seimbang dengan jam yang diberikan untuk pelajaran akademik. Siswa tidak hanya bisa berprestasi untuk bidang akademik saja, bahkan tidak sedikit siswa yang lebih banyak menghasilkan prestasi di bidang seni. Orang yang lemah di akademik tidak tentu orang tersebut bodoh, hanya saja mereka tidak merasa nyaman dengan apa yang di pelajari. Jika kita lihat Thomas Alfa Edison,beliau tidak menyukai sistem pembelajaran di sekolah. Dia keluar dari bangku sekolah,dia menemukan cara sendiri untuk membuat dirinya nyaman dengan apa yang di lakukan dan bagaimana dia dapat membuat dirinya sukses dengan menemukan bola lampu yang sangat bermanfaat bagi dunia.
Orang sukses tidak hanya berasal dari seseorang yang unggul dalam bidang akademik,tapi orang sukses adalah mereka yang bisa membuat dirinya nyaman dengan apa yang di kerjakan nya. Tragis memang jika kita melihat seseorang belajar sungguh- sungguh untuk mendapatkan nilai 10 dalam ujian matematika dengan hati yang sangat terpaksa. Dalam hati mereka tidak menyukai matematika,namun pihak sekolah mewajibkan agar para siswa dapat mencapai nilai lebih dalam pelajaran matematika. Inilah salah satu factor yang dapat menghambat kreatifitas para siswa. Sekolah seharusnya harus mempunyai tujuan pendidikan, dengan capaian agar anak - anak didik dapat meningkatkan dan mengoptimalkan potensi siswa sesuai dengan minat dan bakat yang di miliki. Seperti hal nya sekolah SMP Kreatif iHAQi Boarding School Bandung. Boarding School yang sekaligus di bina oleh Ustad Erick Yusuf ini, mengusung motto sekolah Agamis, Universal dan Kreatif. SMP Kreatif iHAQi ini mengkombinasikan antara kurikulum DIKNAS dengan kurikulum pesantren yang berbasis agama sehingga siswa dapat menguasai ilmu pengetahuan umum yang berbasis teknologi juga dapat memahami nilai-nilai agama utamanya mengaplikasinnya dengan kehidupan. Jadi, tidak ada salahnya menerapkan kreatifitas dalam mengaplikasikannya dengan kurikulum akademik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar