Hampir
semua sekolah formal di seluruh Indonesia lebih menitikberatkan pendidikan ke
dalam kurikulum akademik. Para siswa setiap hari nya diajari matematika.
Bagaimana cara mencari luas persegi panjang atau pun nilai dari trigonometri
yang dirasa cukup membingungkan bagi para siswa. Tak banyak siswa dari jenjang
SD sampai perguruan tinggi membenci pelajaran matematika karena harus
dihadapkan dengan angka- angka. Sedangkan untuk pelajaran yang dapat merangsang
kreatifitas otak para anak di kesampingkan oleh pihak sekolah. Bisa kita lihat
perbedaan nya, bahwa di sekolah lebih cenderung menuntut para siswa agar
mendapatkan nilai sebaik- baiknya pada pelajaran matematika,IPA,Bahasa inggris
dan bahasa Indonesia. Sedangkan untuk pelajaran seni,seperti seni lukis,seni
tari dan olahraga lebih cenderung di nomor duakan. Begitu pula dengan para
orang tua, jika anak nya rendah dalam matematika para orang tua berlomba- lomba
untuk memberikan les tambahan di luar sekolah atau di lembaga bimbingan belajar
bonafit dengan harapan anaknya bisa lebih unggul untuk mendapatkan nilai
terbaik dalam pelajaran matematika. Namun, jika sang anak rendah dalam
pelajaran seni tari para orang tua tidak mau ambil pusing dengan hal itu karena
mereka menilai pelajaran seni tari tidak penting dibandingkan dengan pelajaran
eksak. Hal tersebut sangat tidak relevan bahkan dapat mematikan kreatifitas
pada diri anak.
Bila
kita lihat, banyak orang berbakat dalam dunia music atau pun dalam dunia lukis.
Namun, pihak sekolah tidak mendukung bakat tersebut. Sang anak terforsir untuk
mempelajari ilmu eksak karena tuntutan nilai yang di tragetkan pihak sekolah
untuk dapat dipenuhi oleh para siswa. Mau tidak mau siswa tersebut lebih focus
untuk mempelajari ilmu eksak dibanding meng explore kemampuannya dalam bidang seni.
Kurikulum
pendidikan di Indonesia tidaklah salah,hanya saja cara menerapkan kurikulumnya
yang belum tepat. Pemerintah seharusnya memberi wadah untuk para siswa agar
dapat mengembangkan kreatifitasnya. Pendidikan tidak lah harus dititikberatkan
pada ilmu eksak, namun berilah ruang untuk dapat meng-explore skill yang dimiliki oleh para siswa. Di
sekolah,pelajaran seni dan olahraga rata- rata hanya di beri waktu 2 jam untuk
setiap minggunya. Porsi pembagian waktu pembelajaran tersebut tidak lah
seimbang dengan jam yang diberikan untuk pelajaran akademik. Siswa tidak hanya
bisa berprestasi untuk bidang akademik saja, bahkan tidak sedikit siswa yang
lebih banyak menghasilkan prestasi di bidang seni. Orang yang lemah di akademik
tidak tentu orang tersebut bodoh, hanya saja mereka tidak merasa nyaman dengan
apa yang di pelajari. Jika kita lihat Thomas Alfa Edison,beliau tidak menyukai
sistem pembelajaran di sekolah. Dia keluar dari bangku sekolah,dia menemukan
cara sendiri untuk membuat dirinya nyaman dengan apa yang di lakukan dan
bagaimana dia dapat membuat dirinya sukses dengan menemukan bola lampu yang
sangat bermanfaat bagi dunia.
Orang
sukses tidak hanya berasal dari seseorang yang unggul dalam bidang
akademik,tapi orang sukses adalah mereka yang bisa membuat dirinya nyaman
dengan apa yang di kerjakan nya. Tragis memang jika kita melihat seseorang
belajar sungguh- sungguh untuk mendapatkan nilai 10 dalam ujian matematika
dengan hati yang sangat terpaksa. Dalam hati mereka tidak menyukai
matematika,namun pihak sekolah mewajibkan agar para siswa dapat mencapai nilai
lebih dalam pelajaran matematika. Inilah salah satu factor yang dapat
menghambat kreatifitas para siswa. Sekolah seharusnya harus mempunyai tujuan
pendidikan, dengan capaian agar anak - anak didik dapat meningkatkan dan
mengoptimalkan potensi siswa sesuai dengan minat dan bakat yang di miliki.
Seperti hal nya sekolah SMP Kreatif iHAQi Boarding School Bandung. Boarding
School yang sekaligus di bina oleh Ustad Erick Yusuf ini, mengusung motto
sekolah Agamis, Universal dan Kreatif. SMP Kreatif iHAQi ini mengkombinasikan
antara kurikulum DIKNAS dengan kurikulum pesantren yang berbasis agama sehingga
siswa dapat menguasai ilmu pengetahuan umum yang berbasis teknologi juga dapat
memahami nilai-nilai agama utamanya mengaplikasinnya dengan kehidupan. Jadi,
tidak ada salahnya menerapkan kreatifitas dalam mengaplikasikannya dengan
kurikulum akademik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar